Skip to content

Doktrinasi VS Keteladanan

July 3, 2008

Doktrinasi VS Keteladanan

Sebuah prespektif dalam memaknai cara Rasulullah berdakwah
Doktrinasi tidak lain merupakan cara untuk mempengaruhi orang lain dengan sebuah pemaksaan apa yang ada di pikiran kita harus sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran orang lain, baik dalam bentuk dialog, debat, pertanyaan retoris, dan lain sebagainya. Cara ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk infiltrasi pemikiran dan biasa dipakai oleh orang – orang pengkader untuk merekrut kader yang kemudian siap untuk digerakkan.
Satu contoh di Jerman pada waktu NAZI berkuasa, Adolf Hitler melakukan upaya doktrinasi dengan menyuarakan seruan – seruan chauvinisme dengan slogan “ Ras Arya adalah pemimpin dunia “. Akibatnya memang cukup dahsyat. Buktinya dengan keberhasilan yang diperoleh tentara NAZI dalam melakukan Blitzkrieg ke daerah – daerah sekitar Jerman.
Berbeda dengan doktrinasi, keteladanan merupakan sebuah cara untuk mengkader dengan sebuah tindakan konkret dan diharapkan orang lain bisa meniru apa yang dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai teladan tadi. Cara ini memang akan terasa lebih lama dibandingkan dengan doktrinasi tadi karena proses keteladanan memerlukan lebih dari sekedar kemampuan beretorika, karisma kepemimpinan, ketegasan, ataupun karakter tangan besi. Ia lebih membutuhkan sebuah keikhlasan, sebuah hal yang sampai saat ini kita masih sulit untuk bisa istiqomah bisa hadir di dalam diri kita. Ia juga membutuhkan sebuah kesabaran karena lamanya proses keteladanan tadi bisa berbulan – bulan bahkan bisa sampai bertahun – tahun. Ia juga membutuhkan sebuah pendekatan personal tetapi tidak melalui kontak bicara saja, namun harus dari hati ke hati, sangat berbeda dengan doktrinasi yang bisa berujung kepada sebuah debat kusir.
Dakwah sendiri merupakan upaya untuk menyeru manusia kepada Islam. Apa yang diharapkan merupakan sebuah cita – cita besar penegakan kalimat Allah di seluruh penjuru bumi. Tak bisa dipungkiri memang bahwa dakwah ini pada akhirnya akan memerlukan orang – orang yang bisa digerakkan atau lebih tepatnya disebut kader.
Rasulullah SAW sebelum menerima perintah untuk berdakwah, beliau sudah membangun sebuah perspektif keteladanan dalam diri beliau dengan bukti konkretnya adalah gelar Al Amin. Beliau juga ketika memulai dakwahnya adalah kepada kerabat terdekat beliau karena pendekatan personalnya tentu akan lebih mudah. Ini adalah sebuah bukti bahwa beliau dalam melakukan dakwah lebih menitikberatkan kepada sebuah proses keteladanan dan cenderung untuk menjauhi doktrinasi.
Doktrinasi sendiri di jazirah Arab dilakukan oleh orang – orang Jahiliah dengan adanya tradisi yang berbau kemusyrikan. Karena itulah Islam datang dengan sebuah metode yang disebut Jihad. Jihad datang untuk memberangus habis setiap doktrin – doktrin kemusyrikan yang ada di jazirah Arab pada waktu itu. Rasulullah sadar walaupun beliau berdakwah mati – matian, kalau doktrinasi kemusyrikan masih tetap bercokol, dakwah pasti akan sulit diterima. Karena hal tersebut, beliau memilih untuk memberangus terlebih dahulu doktrin – doktrin tersebut sehingga manusia bisa memilih secara sadar apakah akan masuk Islam atau tetap dalam kekafiran. Beliau tidak pernah mendoktrin orang – orang karena sesungguhnya La ikroha fiddiin “ ( tidak ada paksaan dalam beragama ). Beliau ingin membebaskan manusia dari segala paksaan – paksaan yang membuat manusia tidak bisa memilih dengan nuraninya. Beliau juga mencoba untuk membebaskan manusia dari perbudakan baik itu perbudakan oleh berhala – berhala buatan manusia ataupun terhadap manusianya sendiri. Beliau tidak membiarkan walapun negerinya tidak diserang, tetapi jika di tempat lain masih ada perbudakan ataupun doktrinasi kekafiran, beliau akan tetap melakukan jihad ke negeri tersebut.
Sekarang pilihan ada di kita. Bagi para pengkader, metode apa yang akan Anda terapkan nantinya. Doktrinasi atau sebuah keteladanan ?

sumber;

dari sahabat saya

From → Artikel

One Comment
  1. Doktrin &keteladanan semua itu ilmu yang Allah berikan ke pada hambanya tetapi perlu diingat Tuhan hanya mentaqdirkan baik buruk datang kepada hambanya siapapun yang memakai ilmu Allah harus pertanggung jawabkan per buatannya di dunia& akhirat nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: