Skip to content

Obama Bukan yang ‘Pertama’

July 1, 2008
Selasa, 1 Juli 2008 | 07:56 WIB

SENATOR Illinois, Barack Obama, dipastikan menjadi presiden AS kulit hitam pertama jika menang dalam pemilu 4 November 2008 nanti. Tetapi sebenarnya Obama ”bukan” presiden AS kulit hitam yang pertama. Kalimat yang kedua ini berkaitan dengan banyak film layar lebar dan televisi keluaran Hollywood yang memperlihatkan seorang warga AS keturunan Afrika menjadi presiden. Analis bahkan mengatakan, film-film ini akan membantu para pemilih AS memberikan suara bagi kehadiran seorang presiden AS kulit hitam di Gedung Putih. Obama sejauh ini sudah mencatat rekor. Dia menjadi seorang warga kulit hitam pertama yang menjadi calon presiden dari sebuah partai besar, Partai Demokrat. Dan sejarah baru akan terukir begitu Obama bisa mengalahkan saingannya, John McCain, dari Partai Republik. Dan Obama punya peluang menang. Dia selalu unggul dalam jajak pendapat terakhir. Dan film-film Hollywood itu bakal menjadi pendulum suksesnya Obama. John W Matviko, penulis The American President in Popular Culture, seperti dikutip AFP, merasa yakin popularitas mutlak Obama di kalangan pemilih muda merupakan bagian dari faktor film-film keluaran Hollywood itu. Film layar lebar ataupun televisi soal presiden AS berkulit hitam muncul sejak tahun 1933. Aktor Sammy Davis Jr, yang baru berusia tujuh tahun, kala itu sudah muncul dalam komedi Rufus Jones for President. Atau Aktor kawakan Morgan Freeman dalam film Deep Impact tahun 1998 sudah memperlihatkan seorang presiden AS kulit hitam berkantor di Ruangan Oval, Gedung Putih. Kehadiran sosok presiden AS berkulit hitam di film dan televisi yang membuat para pemilih muda terbiasa bukan lagi suatu yang asing. Nuansa ini juga yang membuat mengapa Obama sangat mudah diterima oleh para pemilih muda. Intinya, Obama nantinya bukan seorang presiden AS berkulit hitam yang pertama. ”Salah satu fungsi dari budaya populer adalah memperkenalkan ide-ide sekalipun porsinya hanya sedikit melalui sarana yang secara tradisional sangat bisa diterima. Jadi, meskipun hanya sebentar, pada akhirnya bisa juga diterima,” ujar Matviko. Dan Obama sangat beruntung karena selama ini film atau drama televisi selalu menampilkan seorang presiden AS kulit hitam yang positif. Akibatnya, para pemilih muda di AS punya kesan positif menyangkut kehadiran seorang presiden kulit hitam. Ini yang menjadi bagian dari popularitas Obama di kalangan penduduk atau pemilih usia muda. ”Jadi, pemikiran soal adanya presiden dari kalangan kulit hitam menjadi suatu yang biasa, bukan hanya sebuah isu,” ujar Matviko soal manfaat dari penyajian positif seorang presiden kulit hitam di film dan televisi. Kemenangan dan munculnya Obama jelas suatu yang pasti baik dan positif. Mengubah arus utama Penampilan presiden AS berkulit yang positif banyak membantu mengubah sikap utama (mainstream) di AS soal seorang tokoh kulit hitam. Film The Man tahun 1972 yang dibintangi James Earl Jones merupakan film layar lebar pertama yang menyajikan cerita seorang presiden AS berkulit hitam yang baik. Dan sejak itu, sejumlah film dan drama televisi juga menyajikan peran presiden kulit hitam yang sama. Aktor Dennis Haysbert yang tampil sebagai seorang presiden kulit hitam yang hebat dalam serial televisi 24 yang populer yakin perannya ini sangat berpengaruh. Haysbert kepada surat kabar Los Angeles Times dalam sebuah wawancara baru-baru ini mengatakan, dia tidak ragu karakternya dalam film itu membantu mengubah sikap utama yang ada. ”Terus terang dan jujur, peran yang saya lakukan dan cara bermain dan cara penulis mengisahkan ini telah membuka mata publik Amerika bahwa seorang presiden kulit hitam sangat hebat dan mungkin saja terjadi,” ujar Haysbert. Karakter presiden AS yang diperankan Haysbert dalam 24 akhirnya terbunuh. Film ini memperlihatkan seorang presiden AS kulit hitam yang berani bersikap dan membuat keputusan tegas yang kadang bertentangan dengan sikap umum. Namun, keputusan ini tepat. Todd Boyd, pakar film dan budaya Afrika-Amerika di Sekolah Seni Sinematika Universitas Southern California, skeptis dengan pengaruh film-film Hollywood pada hasil pemilu presiden 2008. Sedangkan Robert Thompson, profesor budaya populer pada Syracuse University, mengatakan, boleh saja pengaruh film dan serial televisi pada popularitas Obama. Namun, Thompson yakin penampilan yang menawan dan popularitas Obama yang mengakar yang membuatnya menang. ”Morgan Freeman atau Dennis Haysbert memberikan kredit penting bagi Obama, tapi jangan meremehkan karismanya,” ujar Thompson. pieter gero Sumber : Kompas

From → Ilmu Politik

One Comment
  1. fatchulfkip permalink

    Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008, dari Invisible Man menjadi Visible man?

    Dalam proses pemilihan presiden, di manapun, kalah atau menang dalah hal biasa. Bila seseorang mampu meraup suara terbanyak, dia menang; sebaliknya bila dia memperoleh suara lebih kecil dari pesaingnya, berarti dia kalah. Namun, akan menjadi lain, bila Obama mampu meraih kemenangan dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Mengapa demikian?. Saya mencoba memberikan ulasan sebagai berikut.

    Sekilas tentang Black American
    Orang Amerika kulit hitam, yang memiliki sejumlah sebutan: Negro, Black American, dan African American. Sebutan negro atau niger dan black American, kini, jarang dipakai. Tampaknya, sebutan popular hari ini adalah African American.
    Orang Amerika kulit hitam, awalnya, orang Afrika yang dipekerjakan sebagai indentured servant dan kemudian sebagai budak (slave).Para budak itu, umumnya, bekerja di perkebunan, dimiliki oleh pemilik budah (slave owner), dan diawasi oleh para mandor. Mereka bisa diperjualbelikan. Hingga dalam beberapa generasi, mereka menjadi budak. Walaupun Amerika telah mendapatkan kemerdekaannya, perbudakan masih berlangsung, hingga pecahnya Perang Saudara (Civil War).
    Perang saudara itu terjadi antara pihak pro dan kontra perbudakan. Pihak pro pebudakan adalah Amerika bagian Utara (Northern America) dan Amerika bagian Selatan (Southern America). Salah satu faktor utama penyebab meletusnya perang saudara adalah pandangan kelompok Utara, bahwa perbudakan melanggar hak asasi manusia (human rights); perbudakan bertentangan dengan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence), khususnya “…. all men are created equal” (Semua manusia tercipta dalam kesamaan). Para budak harus ditingkat status sosial mereka sebagai orang bebas (free men), yang memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama, dalam semua aspek kehidupan (idelogi, politik,ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan-keamanan.
    Setelah secara de jure, perbudakan itu dihapuskan, namun secara de facto, perlakuan terhadap free men tidak serta merta sama dengan warga Amerika lain, khususnya dengan White American. Warga kulit hitam lama sekali berada di bawah dominasi kulit putih (white domination). Warga kulit putih menganggap diri mereka sebagai superior; sementara warga kulit hitam, sebagai inferior.
    Sejarah mencatat, di bawah white domination itu, warga Amerika kulit hitam dihadapkan pada kehidupan yang serba sulit dan berat. Mereka dihadapkan pada purbasangka (prejudice), diskriminasi (discrimination), pemisahan (segregation), bahkan hukuman mati secara sadis tanpa proses hukum (lynching).
    Pengalaman warga Amerika kulit hitam banyak terefleksikan dalam kaya-karya sastra. Ambil contoh, novel berjudul Uncle Tom’s Cabin, Native Son dan Insivible Man. Dalam Uncle Tom’s Cabin, seorang perempuan kulit hitam, Harriet Beecher Stowe, mengisahkan perbudakan di Amerika Serikat. Ketika novel ini ditulis, di negera itu telah terjadi silang pendapat tentang adanya perbudakan. Kelompok yang pro dengan perbudakan adalah terdiri dari orang-orang kulit putih yang umumnya berada di Amerika bagian Selatan, yang memiliki banyak budak atau yang diuntungkan dengan adanya perbudakan itu. Sedangkan kelompok yang kontra adalah mereka yang berada di Amerika bagian Utara (didukung oleh kelompok kulit hitam). Menurut catatan sejarah, novel Uncle Tom’s Cabin memiliki daya provokatif yang luar biasa, membawa rakyat Amerika ke kancah perang saudara.
    Novel Native Son, karya Richard Wright, terbit pada tahun 1940-an, dan Insvisible Man, karya Ralph Ellison, terbit tahun 1950-an, keduanya masih merekam inferioritas kaum kulit hitam. Dalam masa ini, secara de jure, perbudakan telah dihapuskan; namun secara de facto, dominasi kulit putih terhadap kulit hitam masih cukup kuat. Yang menarik untuk diungkap di sini adalah invisible man dalam novel Invisible Man. Pernah ada penerjemah, menerjemahkan Invisible Man dalam bahasa Indonesia dengan istilah “Manusia Gaib”. Yang dimaksud dengan invisible man bukanlah “manusia gaib”; tetapi manusia yang secara fisik seperti manusia lain, bisa dilihat, dan dia tidak bisa menghilang. Dia adalah manusia yang secara sosial-budaya kurang (atau bahkan tidak) diakui eksistensinya.

    Kondisi Dilematis?
    Secara sosiologis, berdasar pengelompokan ras, masyarakat Amerika digolongkan dalam tiga golongan besar. Pertama adalah kelompok kulit putih; kedua, kulit merah; dan ketiga, kulit hitam. Orang kulit putih ini berasal dari imigran Eropa (khususnya, Inggris); orang kulit merah adalah orang Amerika Asli (Native Americans); dan orang kulit hitam berasal dari/keturunan Afrika. Orang kulit putih menduduki kelas pertama (the first class); orang kulit merah, kelas kedua (the second class); dan orang kulit hitam (dan imigran lain), kelas ketiga (the third class).
    Bila orang kulit dan kulit hitam disandingkan, stratifikasi sosial mereka adalah : orang kulit laki-laki (male white people), orang kulit putih perempuan (female white people), orang kulit hitam laki-laki (male Black Americans), dan orang kulit hitam perempuan (female Black Americans).
    Ketika Obama bersaing dengan Hillary Clinton dalam penjaringan kandidat presiden dari Partai Demokrat, di atas kertas, diprediksi dia (Obama) sulit mendapat dukungan untuk menjadi salah satu penghuni Gedung Putih. Mengapa? Karena, Hillary itu perempuan (Female American); sementara Obama itu keturunan kulit hitam (African American). Secara sosiologis, posisi sosial Hillary lebih tinggi ketimbang Obama. Berdasar sudut pandang sosiologis pula, pertarungan Obama dan Hillary menciptakan kondisi dilematis bagi rakyat pendukung mereka. Memilih Obama yang kulit hitam atau Hillary yang kulit putih tapi perempuan.
    Sebab, sejarah menunjukkan bahwa belum pernah ada orang kulit hitam atau kulit putih perempuan menjadi Presiden Amerika. Sebab, selama ini, dominasi kulit putih (white domination), khususnya, kulit putih yang terkategori WASPs (White Anglo-Saxon Protestants). Klausa “…all men are created equal..” seperti tertera dalam Declaration of Independence, selama ini, masih berpihak pada Man White Anglo-Saxon Protestant. Namun, kini, “tradisi” bahwa Presiden Amerika Serikat itu laki-laki, kulit putih, keturunan Inggris, dan beragama Protestan, telah runtuh seiring dengan kemenangan Barack Obama.
    Apakah kemenangan Obama ini berarti mengantarkan status invisible man –seperti yang dicita-citakan oleh Ralph Ellison dalam novelnya Invisible Man—ke status visible man? Saya kira, hanya orang-orang Amerika yang mampu dan berhak menjawabnya.

    Pelajaran berharga
    Sejumlah pengamat menyatakan bahwa kemenangan Barack Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat ini hendaknya dijadikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Dalam Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden kita nanti, atau Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, kita hendaknya mengambil sisi-sisi positif dari proses demokrasi di negeri Paman Sam itu.
    Satu sisi yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa seorang Barack Obama bukanlah orang terkategori sebagai bagian dari White Anglo- Saxon Protestants. Artinya, siapapun –asalkan Warga Negara Indonesia dan tentu memenuhi syarat-syarat sebagai kandidat presiden, bupati atau wali kota- beri kesempatan untuk maju ke pemilihan presiden. Bila beliau terpilih, dialah presiden, gubernur, atau bupati/wali kota kita. Beliau harus didukung, dan hendaknya tidak diprotes, diboikot program-programnya, dan tindakan-tindakan sejenisnya. Bagaimana menurut anda? (Penulis: Alumnus Kajian Amerika, Pascasarjana-UGM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: